sebuah monolog untuk djogja
DJOGJA-KOE.. DJOGJA-MOE…
sebuah monolog untuk djogja
karya mudika relawan
roland, sept 1st, 2006
Intro : Pelangi Kasih (dinyanyikan live)
PELANGI KASIH
Apa yang kau alami kini;
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan bri
Tuhan mu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu
Reff: Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan
Kau lihat pelangi kasih Nya
(suara dalang berbahasa Jawa, menandakan kedamaian di tanah DIY)
22 Mei 2006, pukul 05.00 pagi
Cuit.. cuitt.. cuittt….
Burung merpati baru melek dari tidurnya
Krrr… Krr… Krr….
Mentok pun baru terkukur dari nguapnya
Kukuruyukkk… tok.. tokkk.. .tokkk..
Ayam jantan pun baru bangun dan sibuk pedekate dengan sang betina..
Tokkk.. Tokkk… petokkk… tokkk… tokkk.. emoh..
Sang betina tampak lebih senang bertelur..
Mbeeeekkk… Mbeekkkkk.. Mbeeeeeeeeeeeekkkk..
Sekawanan kambing sedang asyik merumput..
Moooo… Mooooo…. Mooooahhh.. ahhh… ahhhh…
Lady, si sapi cantik, sedang diperah2 susunya sambil menikmati breakfast..
Gludug.. gludug.. gludug..
Gunjang.. ganjing.. genjengggg…
Tekkk.. tekkk.. dung.. tekk dung…
Gubrakk.. gabrukkk.. gebrekkk…
Bruakkk.. brakkk… brug….
Kocar kacir.. hancur lebur…
Arghhhhh… arghhhhh…
Sakit mak…
Bapak mana..?
Ibu….
Dewi…
Kakiku, bu.. kakiku… mana kakiku.. (menangis)
Joko…
Agusss..
Tono…
Lariiiiiii….
Arghhh… arghhhh… (terdiammmm..)
Sri…
Panen kita.. sawah kita..
Buyung masih di dalam, bu…
Gelepar tangan buyung terhenti di tangan ibu
Remuk ditimpa bangunan rumah
Habiss kita nak, hancur kita…
Gusti.. apa salah kami..
Tidakk… tidakkkk.. tidakkk… TIDAAAAKKKKK….
Siti….
Diam.. kita cari dalam puing ini…
Mayat-mayat bergeletakan
Bilur luka bak bisa dan biasa..
Genangan darah dalam cermin retak kehidupan..
Sanak saudara lenyap, dalam timbun puing derita
…….
……….
… … 5.716 korban jiwa… …
Tokk.. tokkk.. tokkkk..
Pintu nurani sedang diketuk..
Namun, pintu gengsi, kuasa, dan partai yang terbuka..
Semua bergerak.. semua serentak..
Saling bahu membahu..
Saling membantu…
Cepat.. giat…
Gelap.. gelap.. gulita menyelimuti jogja..
Saat sekelompok relawan datang ke sebuah gereja di Imogiri, Bantul..
Gereja Mater Dei, menjadi saksi kemuliaan Mu,
Saat altar runtuh, salib terhempas, dan patung Mu terkoyak..
Adakah yang peduli adakah yang tersentuh..?
Sayup lampu petromaks menyelimuti malam..
Beralas tikar menyelimuti damai bintang malam..
Aku terdiam, terlelah dalam penat kelompok relawan
Suster datang, mudika datang, frater datang, Persekutuan Doa datang..
Jakarta, Surabaya, Semarang, berbagai elemen..
Sejenak relawan itu bangga sekaligus terharu..
Man for others, man with others..
Indomie, sarimie, mie sedap, selera rakyat, dan entah berbagai merk lain
Bertubi-tubi datang, menyusul aqua, vit, ades, dan berbagai merk air kemasan..
Tenda.. tanda… siklit… kami butuh tenda…
Beras yang datang, obat-obatan yang datang, entah dimana si tenda..
Kerabat kami sudah mati, buat apa obat lagi..!!
Petromaks.. petromaks.. susu bayi…. Kami butuh itu..
Mie instant lagi, beras lagi, lagi-lagi baju, kami masih punya baju..
Mana siklitnya, mana petromaksnya, mana susu bayinya, mana.. mana…?
Aji.. aji.. mumpung.. mumpung.. mumpung aji…
Timbun menimbun menjadi satu..
Tunjukkan KTP anda, maka Anda akan mendapatkan sebuah paket sembako..
Maka giatlah bapak kepala keluarga mengumpulkan KTP ibu, anak 1, anak 2, anak 3, sepupu 1, sepupu2, sepupu3, kemenakan1, kemenakan2, dan lain lain lainnya…
Guna memupuk logistik di gudang makanannya..
Nun.. nun.. nun jauh di pelosok sana
…. Sunyi.. sunyi…
Krikk.. krikk.. hanya jangkrik malam yang menemani purnama..
Desir angin siang yang membungkam nelangsa mentari..
Bantuan tak pernah datang, tak sekali pun..
Ia terhenti di pinggir jalan di tengah kota; terhenti oleh sekelompok preman, yang berteriak atas nama kemanusiaan, atas nama lapar, menjarah mobil dan truk bala bantuan..
Bantuan tertegun dalam timbunan posko darurat yang sudah tidak darurat
Tak pernah sampai pada mereka yang di pinggir..
..hening..hening…
Bagai makam para raja, yang ikut hancur tatkala sang alam tunjukkan kuasanya..
Membisu.. tak terusik gemuruh gempa yang melandanya..
Ya Gusti… (doa dalam bahasa Jawa)
Ya Tuhan, ajarlah kami untuk selalu sabar, mencari hikmah dalam setiap kejadian hidup ini, belajar dalam segala kepenatan hidup, dan selalu berpaling dan kembali kepada Mu..
Usah..
usah kau bantu kami, jika itu hanya menunjukkan egomu
usah kau bantu kami, jika itu hanya menunjukkan nama partaimu
usah kau bantu kami, jika itu hanya menunjukkan golonganmu
usah kau bantu kami, jika itu hanya menunjukkan warna kulitmu
usah kau bantu kami, jika itu hanya menunjukkan rasa kasihanmu
tidak.. bukan itu yang kami butuhkan..
bukan celoteh, bukan tangis, bukan pula materi..
atas luka batin ini, hancurnya rumah, gagal panen, matinya kerabat, dan deraian panjang derita ini..
bukan triliunan rupiah, atau celotehan panjang wakil rakyat yang mengaku peduli..
bukan.. bukan..
terima kasih untuk itu semua…
kami memang butuh itu semua..
tapi percuma tatkala kau beri itu, dan langsung kau tinggal kami
kembali disibukkan dalam rutinitas dunia mu..
tapi percuma tatkala kau beri kami bertumpuk-tumpuk logistik;
dalam gudang puing rumah kami;
dan kau pergi, menyibukkan diri dalam kemajemukan aktivitas..
terima kasih untuk itu semua..
kami memang butuh itu semua..
tapi ingat, kami disini, engkau disana..
kami terpekur dalam ketidakberdayaan,
dan kau terlena dalam kenyamananmu
kami lebih butuh kasihmu..
kami lebih butuh doa tulusmu..
kami lebih butuh semangatmu untuk terus berjuang
kami lebih butuh doronganmu untuk bangkit kembali..
melanjutkan keping hidup yang telah terburai
merangkai kembali keping itu dalam satu jalinan kasih..
menyongsong esok dalam pelangi harapan
(outro: Heal the World-Michael Jackson)
Dibacakan dalam sebuah acara
guna menggalang dana bagi korban gempa bumi di Yogyakarta
Waroeng Gaoel; Berkarya untuk Djogja
Sabtu, 9 September 2006, St. Stephen Martyr Church Hall
Indonesian Community of Archdiocese of Los Angeles
